Ikhtisar:Sebuah investigasi Financial Times mengungkap jaringan keuangan A7 yang didukung Kremlin telah memindahkan lebih dari US$6,9 miliar (sekitar Rp 111 triliun) melalui bank-bank global dengan memalsukan dokumen. Sebanyak 14 perusahaan di Indonesia disebut diduga sebagai bagian dari jaringan ini.

Investigasi yang berdasarkan ratusan ribu file internal bocor ini menunjukkan A7 menggunakan perusahaan-perusahaan cangkang dan dokumen palsu untuk menembus sistem SWIFT. Bank-bank besar seperti Standard Chartered di Hong Kong dan First Abu Dhabi di UEA menjadi tempat mengalirnya dana.
Daftar isiBerapa Banyak Uang yang Mengalir dan ke Mana?
Menurut Financial Times, sejak akhir 2024 hingga Agustus 2025, entitas terkait A7 mengirim US$1,1 miliar ke Standard Chartered di Hong Kong. DBS di Hong Kong menerima US$273 juta, dan klien Citigroup menerima US$74 juta. Klien Deutsche Bank di Eropa menerima sekitar US$18 juta.
A7 juga membuka rekening di First Abu Dhabi untuk 17 entitas berbeda, yang melakukan pembayaran keluar lebih dari US$1,8 miliar. Lebih dari separuh aliran dana akhirnya masuk ke rekening bank di China.

Bagaimana Modusnya?
A7 menggunakan “operasi pemalsuan skala industri” untuk memproduksi faktur palsu. Mereka memiliki perpustakaan berisi ribuan stempel perusahaan — sebagian palsu, sebagian disalin dari dokumen asli perusahaan yang tidak curiga.
Dalam satu kasus, karyawan A7 mendiskusikan pembayaran sekitar US$510.000 untuk 500 alat bidik malam hari pada Februari 2025. Dokumen diubah agar transaksi tampak seperti pembelian kaca biasa.
Mereka juga menghapus “jejak Rusia” dari dokumen, termasuk memastikan tidak ada huruf Kiril yang muncul.
Siapa di Balik A7?
A7 didirikan di Rusia dan Kirgistan oleh Ilan Shor, oligarki Moldova yang melarikan diri, dengan dukungan Promsvyazbank (PSB), bank milik negara yang dekat dengan industri pertahanan Rusia. Shor dihukum in absentia atas perannya dalam hilangnya sekitar US$1 miliar dari bank-bank Moldova.
Perusahaan ini dipasarkan sebagai sistem pembayaran alternatif setelah bank-bank Rusia diputus dari SWIFT. Kremlin menyebutnya sebagai andalan pembayaran lintas batas untuk impor.
Peran Perusahaan Indonesia dalam Jaringan A7
Dalam investigasi juga mengungkap jaringan keuangan A7 yang didukung Kremlin telah memindahkan total lebih dari US$6,9 miliar (sekitar Rp 111 triliun) melalui bank-bank global dengan memalsukan dokumen. Sebanyak 14 perusahaan di Indonesia disebut diduga sebagai bagian dari jaringan ini.
Dokumen yang bocor menyebut setidaknya diduga 14 perusahaan di Indonesia sebagai bagian dari jaringan A7. Ini berarti Indonesia menjadi salah satu negara tempat A7 mendirikan perusahaan cangkang untuk memindahkan uang.
Jumlah ini lebih kecil dibandingkan Hong Kong (87), UEA (61), dan Kirgistan (16). Namun kehadiran Indonesia menunjukkan jaringan ini menjangkau Asia Tenggara.

Bagaimana Bank Terkena Dampak?
Bank-bank internasional yang disebut dalam dokumen tidak serta-merta mengetahui transaksi tersebut. Skema ini dirancang untuk membuat pembayaran tampak sah melalui dokumen palsu.
Investigasi FT menyatakan temuan ini tidak berarti bank-bank tersebut secara sadar memproses transaksi yang melanggar sanksi. Namun, ini menunjukkan kelemahan sistem kepatuhan perbankan global.
Apa yang Bisa Anda Lakukan?
Bagi Anda yang memiliki rekening di bank yang disebut, tidak perlu panik. Namun, waspadai tawaran investasi yang menjanjikan keuntungan besar dengan skema pembayaran internasional yang rumit.
Ciri-ciri skema pencucian uang:
- Menggunakan perusahaan cangkang di berbagai negara
- Dokumen yang tidak jelas atau dipalsukan
- Transaksi yang sengaja dibuat rumit
- Melibatkan pihak yang tidak dikenal
Jika Anda menemukan tawaran investasi mencurigakan, laporkan ke OJK melalui kontak 157 atau email konsumen@ojk.go.id.
Sumber
- Post asli di X
- Financial Post: Kremlin-backed forgery scheme moved billions through banks
- Hromadske: Russia-linked network moved $6.9 billion through global banks using forged invoices - FT
- The Insider: Сеть Шора A7 провела через мировые банки $6,9 млрд
- Open Source Centre: The Big Shor