Ikhtisar:Iklan di X menampilkan foto pejabat hasil rekayasa AI dengan caption seperti "Tas apa itu?" tengah marak. Diklik, pengguna dibawa ke portal berita palsu berisi cerita konspirasi dan testimoni bohong, lalu diarahkan menyetor uang ke platform investasi dengan iming-iming keuntungan berlipat. Akun @intinyadeh (279.982 pengikut) membeberkan modus ini dalam unggahan 18,9 jam lalu yang mendapat 392 like dan 84 retweet.

Daftar isiAlur Penipuan: Dari Foto AI ke Portal Palsu
Unggahan @intinyadeh menjelaskan: banyak akun di X menampilkan foto pejabat dengan tas berisi uang. Foto itu dibuat AI.
Saat diklik, pengguna dibawa ke portal berita palsu yang memuat cerita konspirasi tokoh nasional dan testimoni palsu. Tujuannya satu: menyuruh orang menaruh uang ke platform dengan janji keuntungan berlipat.
Pola ini persis seperti yang diungkap pengguna lain. Uzone.id melaporkan iklan serupa menampilkan Chairul Tanjung dan mantan Menkeu Purbaya, dengan caption “Kira-kira apa yang ada di dalam tas itu?”.
Setelah diklik, pengguna diarahkan ke situs trading yang meminta deposit. Uzone.id menyebut iklan itu memakai trik cloaking: menampilkan keterangan “Dari amazon.sa” agar lolos review X, tapi klik dialihkan ke situs penipuan.

Deepfake dan Portal Palsu: Senjata Utama Penipu
Modus ini bukan baru. Detik.com memberitakan video promosi investasi yang mencatut Chairul Tanjung dipastikan hoax. Video itu memakai deepfake untuk merekayasa wajah dan meniru suara.
Rhenald Kasali, dalam klarifikasi yang dilansir Klik Pendidikan, juga menjadi korban: narasi dirinya ditahan polisi dan dikaitkan investasi bodong adalah rekayasa AI. Ia menyebut portal palsu itu memakai font, logo, dan gaya judul mirip Detik, CNBC, dan media lain, padahal URL-nya bukan domain resmi.
OJK mencatat 1.379 laporan penipuan keuangan terindikasi AI sejak November 2024 hingga Juni 2026. Kepala Eksekutif OJK Dicky Kartikoyono mengatakan AI membuat modus penipuan makin meyakinkan, cepat, dan sulit dikenali. Angka ini dari Indonesia Anti-Scam Center (IASC).
Korban Nyata: Mala dan Rp19 Juta yang Raib
BBC Indonesia mewawancarai Mala, 51 tahun, korban longsor di Solok, Sumatra Barat. Ia melihat video “Ujang Busthomi” di TikTok yang menawarkan ritual uang gaib.
Percaya, ia transfer Rp7 juta, lalu Rp3 juta, dan seterusnya. Total Rp19 juta melayang. Uang itu dari usaha warung dan menjual perhiasan. Janji Rp3 miliar tak pernah datang.
Kisah Mala menunjukkan target penipuan ini bukan hanya orang melek internet. Lansia dan orang yang sedang kesulitan ekonomi paling rentan. Polres Pangandaran juga mengingatkan: melihat foto dan pengikut banyak tidak bisa jadi tolok ukur keaslian.
Ciri-Ciri yang Harus Diwaspadai
Dari laporan OJK dan pemberitaan, ada enam modus penipuan berbasis AI yang paling sering dilaporkan:
- Video/foto AI tokoh terkenal seolah merekomendasikan investasi.
- Robot trading yang diklaim pakai AI dan untung tinggi otomatis.
- Aplikasi/platform belanja mengklaim pakai AI, padahal mencuri uang/data.
- AI meniru suara keluarga/teman/lembaga untuk minta transfer.
- Video wajah seseorang dibuat AI untuk memperkuat skenario penipuan.
- Rekayasa foto, video, suara, nomor telepon, rekening, dokumen digital.
Semua modus ini punya tujuan sama: mengambil uang atau data korban.
Yang Perlu Anda Lakukan: Verifikasi Sebelum Percaya
Jangan klik iklan atau tautan yang menampilkan foto pejabat dengan caption ambigu. Laporkan iklan mencurigakan lewat ikon tiga titik di postingan X (pilih spam/mencurigakan) atau formulir laporan iklan di help.x.com.
Jangan pernah memberikan PIN, kata sandi, OTP, atau data pribadi kepada siapa pun. Jika sudah terlanjur transfer, segera hubungi bank atau penyedia jasa pembayaran untuk memblokir transaksi.
OJK sedang mengembangkan aplikasi Anti-Scam untuk pengecekan modus penipuan. Sambil menunggu, verifikasi selalu lewat kanal resmi. Misalnya, cek nama platform di situs OJK atau hubungi lembaga terkait. Ingat: tidak ada investasi yang untung berlipat dalam waktu singkat tanpa risiko. Legal and logic, kata OJK.

