Ikhtisar:Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diproyeksikan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah pada perdagangan Selasa (6/10/2026), menurut pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi. Proyeksi itu muncul setelah rupiah ditutup melemah pada Senin (5/10/2026) di tengah eskalasi tensi geopolitik Timur Tengah dan ketidakpastian pasokan energi domestik.

Daftar isiProyeksi Kurs dan Posisi Terakhir Rupiah
Ibrahim Assuaibi sebagai pengamat mata uang, memprediksi mata uang Garuda bakal ditutup pada rentang Rp 17.910 hingga Rp 17.960 per dolar AS. Rentang itu berarti rupiah berpotensi bergerak dari level penutupan sebelumnya, dengan batas atas proyeksi berada di Rp 17.960 per dolar AS.
Pada penutupan Senin (5/10/2026), data Bloomberg yang dikutip sumber mencatat rupiah merosot 0,20 persen atau 35 poin ke posisi Rp 17.917 per dolar AS. Pergerakan itu sejalan dengan kurs JISDOR Bank Indonesia yang juga melemah 0,11 persen ke level Rp 17.917 per dolar AS.
JISDOR adalah kurs referensi yang dihitung Bank Indonesia dari rata-rata transaksi valuta asing di pasar domestik, sehingga sering dipakai sebagai acuan nilai tukar harian.
Bagi pembaca yang baru mengenal pasar valuta asing, pelemahan rupiah berarti dibutuhkan lebih banyak rupiah untuk membeli satu dolar AS. Sebaliknya, penguatan rupiah berarti jumlah rupiah yang dibutuhkan lebih sedikit.
Pergerakan harian seperti 35 poin umumnya kecil dalam persentase, tetapi tetap diperhatikan pelaku pasar karena dapat memengaruhi biaya impor dan harga barang berbasis dolar.
Konflik Yaman dan Kekhawatiran Pasokan Minyak
Menurut sumber yang sama, eskalasi konflik militer di Yaman serta ancaman serangan balik Houthi terhadap fasilitas minyak Saudi Aramco menjadi pemicu utama kecemasan pasokan minyak global.
Ketegangan di kawasan itu penting bagi pasar karena Timur Tengah merupakan salah satu pemasok energi terbesar dunia, sehingga gangguan pasokan dapat memicu kenaikan harga minyak dan menekan mata uang negara pengimpor energi seperti Indonesia.
Dari dalam negeri, Indonesia tercatat kehilangan 25 persen sumber impor bahan bakar. Kondisi itu memaksa Pertamina berburu pasokan alternatif meski dengan biaya lebih tinggi demi menjaga ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) nasional.
Sumber tidak merinci jenis atau asal pasokan impor yang hilang, maupun besaran tambahan biaya yang harus dikeluarkan.
“Namun, langkah tersebut diperlukan untuk memastikan stok BBM nasional tetap tersedia di tengah ketidakpastian pasokan global,” terang Ibrahim dalam keterangannya, Senin (5/10/2026).
El Nino dan Hambatan Distribusi BBM
Selain faktor geopolitik global, hambatan distribusi domestik ikut memicu kendala pengiriman logistik BBM di beberapa wilayah. Ibrahim menyebut dampak El Nino yang mengeringkan jalur sungai sebagai salah satu penyebabnya.
El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang dapat mengubah pola cuaca, termasuk memperpanjang musim kering di sejumlah daerah.
“Salah satu faktor adalah kondisi El Nino yang dapat mengganggu jalur distribusi BBM, terutama pengiriman melalui sungai. Kondisi sungai yang mengering dapat memaksa pengiriman BBM dialihkan menggunakan truk,” ungkap Ibrahim. Sumber tidak menyebutkan wilayah mana saja yang terdampak hambatan distribusi tersebut.
Faktor yang Perlu Dicermati Pasar
Bagi pasar valuta asing, kombinasi ketegangan geopolitik dan persoalan pasokan energi domestik menjadi dua hal yang perlu dicermati.
Ketegangan di Timur Tengah berpotensi memengaruhi harga minyak dunia, sementara kendala distribusi di dalam negeri menyangkut kelancaran pasokan BBM. Keduanya merupakan faktor yang disebut Ibrahim sebagai latar proyeksi pelemahan rupiah, bukan kepastian arah pasar.
Perlu dicatat bahwa proyeksi rentang kurs Rp 17.910 hingga Rp 17.960 per dolar AS merupakan pandangan Ibrahim Assuaibi, bukan hasil kesepakatan pasar maupun pernyataan resmi otoritas.
Sumber yang tersedia juga tidak memuat pernyataan langsung dari Bank Indonesia atau Pertamina, serta tidak menyediakan data pembanding kurs dari periode sebelumnya selain penutupan Senin (5/10/2026) dan kurs JISDOR pada periode yang sama.
Karena materi yang tersedia hanya berasal dari satu artikel, belum ada konfirmasi silang dari media lain mengenai angka maupun penyebab yang disebutkan. Pembaca sebaiknya memperlakukan rentang proyeksi tersebut sebagai skenario yang diatribusikan kepada pengamat, bukan sebagai kepastian arah pergerakan rupiah.