Gangguan Pasokan Energi Kerek Proyeksi Minyak, Brent Diprediksi Sentuh $107
Harga minyak mentah diproyeksikan melonjak pada kuartal kedua dengan acuan Brent diperkirakan mencapai $107 per barel akibat hambatan logistik di kawasan Teluk.
简体中文
繁體中文
English
Pусский
日本語
ภาษาไทย
Tiếng Việt
Bahasa Indonesia
Español
हिन्दी
Filippiiniläinen
Français
Deutsch
Português
Türkçe
한국어
العربية
Ikhtisar:Disrupsi rantai pasokan di kawasan Teluk memicu revisi ke atas proyeksi harga minyak mentah **Brent** dan **WTI**, mencerminkan premi risiko dari ketatnya ketersediaan energi fisik.

Guncangan pasokan energi global yang berpusat di kawasan Teluk telah memaksa para analis untuk mengkalibrasi ulang prospek harga komoditas utama. Gangguan logistik dan terbatasnya jalur distribusi primer telah mendorong lonjakan tajam pada harga acuan minyak mentah, baik di pasar fisik maupun berjangka.
Berdasarkan analisis strategis dari Rabobank, harga acuan minyak mentah Brent dan WTI sempat melonjak mendekati level 120 USD per barel, dengan harga di pasar fisik secara substansial melampaui level harga kertas. Hal ini mencerminkan tingginya premi risiko yang ditanggung oleh pelaku pasar akibat pengetatan pasokan secara mendadak.
Pemulihan arus logistik energi menuju kapasitas normal diproyeksikan akan memakan interval waktu yang substansial. Volume pengiriman komoditas energi global diprediksi hanya akan pulih hingga kisaran 80% dari level historis pada akhir kuartal ketiga.
Disclaimer:
Pandangan dalam artikel ini hanya mewakili pandangan pribadi penulis dan bukan merupakan saran investasi untuk platform ini. Platform ini tidak menjamin keakuratan, kelengkapan dan ketepatan waktu informasi artikel, juga tidak bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh penggunaan atau kepercayaan informasi artikel.

Harga minyak mentah diproyeksikan melonjak pada kuartal kedua dengan acuan Brent diperkirakan mencapai $107 per barel akibat hambatan logistik di kawasan Teluk.

Analis Rabobank merevisi naik target harga minyak Brent dan WTI menyusul berlanjutnya gangguan pasokan di Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga di pasar fisik.

Rabobank merevisi naik proyeksi harga minyak mentah secara signifikan akibat krisis pasokan global di kawasan Teluk, dengan harga Brent diperkirakan rata-rata mencapai $107 per barel pada kuartal kedua 2026.

Transisi kepemimpinan regulasi digital di Amerika Serikat disusul rampungnya draft perumusan RUU GENIUS bagi stablecoin menjadi katalis kuat untuk menjaga kelancaran sirkulasi basis ekuivalen Dolar AS (USD) global.